Qolbu Menurut AL QUR’AN

Qolbu Menurut AL QUR’AN

“Kehebatan Alquran mengupas hati manusia”
Hati dalam bahasa arab di sebut dengan “qalb”. Sedangkan makna dari “Qalb” itu sendiri adalah membalikan. Namun ada pula yang menyebutnya dengan “al kabad”. Pemaknaan lughawy ini hanya sebagai dasar bahwa hati adalah bagian terpenting dalam tubuh dan pola pikir manusia.

Sedangkan di dalam Alquran sendiri di singgung mengenai hati dengan kata “Qalb”. Kata “Qalb” sendiri merupakan pemaknaan akan fungsinya. Di mana hati sangat rentan dan mudah untuk mewarnai atau diwarnai. Sekarang bicara merah, maka semenit kemudian bisa berubah menjadi putih. Sekarang bisa, sejam kemudian bisa berubah menjadi tidak bisa. Intinya, hati adalah bagian organ tubuh yang memiliki fungsi luar biasa. Dan pekerjaan hati tidak ada yang mengetahui kecuali dirinya saja dengan Sang Khaliq.

Nah, untuk menjadikan hati selalu baik, perlu keyakinan atau pikiran bahwa Allah SWT adalah yang dapat memonitor langsung isi hati kita. Dia tidak akan pernah luput dan lalai terhadap hati kita walaupun manusia dan makhluk lainnya tidak dapat menebak apa isi hati kita ini.

Untuk itulah karena hati sebagai sumber dari setiap tindakan manusia, maka ia memiliki peranan besar terhadap perbuatan-perbuatan. Dalam salah satu Kitab Imam Syafi’I menjelaskan, bahwa semua perbuatan manusia tergantung dari sepotong daging dalam tubuh. Jika ia baik, maka baiklah seluruh perbuatannya. Sebaliknya, jika ia buruk, maka buruklah semua amal perbuatannya, dia lah hati.

Ungkapan ulama atau pun hadist tidaklah berlebihan ketika hati memiliki peranan besar terhadap sikap, tindakan dan perbuatan manusia. Tidak sedikit pun perbuatan manusia, kecuali ia dimulai dari isi hatinya yang terdalam.

Dalam masalah peranan hati terhadap perbuatan manusia, Islam menyikapinya dengan bijak, khusus kepada umat Muhammad SAW, bahwa siapa pun yang ingin melakukan kebaikan. Cukup bermodalkan niat yang terbersit dalam hati, maka Allah telah memberikan balasan niat baiknya itu walaupun ia tidak mengerjakannya sebab lupa dan lain sebagainya. Sebaliknya, dalam masalah perbuatan buruk, siapa pun tidak akan di kenakan dosa oleh Nya selama hanya terbersit dalam hati.

Contohnya adalah Ridwan berniat pada suatu malam ingin melaksanakan shalat Tahajud, namun sebab lain hal, ia lupa tidak melakukannya hingga menjelang fajar. Maka pada hal demikian, Ridwan tetap diberikan nilai pahala oleh Allah SWT sebab niat baiknya untuk melaksanakan sholat Tahajud.

Begitu pula apabila Ridwan hanya memiliki niat untuk mencuri, tetapi perbuatannya tersebut urung dilakukan, alias tidak eprnah terjadi, maka pada posisi demikian, ia tidak berdosa sama sekali walaupun pernah terbersit dalam hatinya.

Ini lah salah satu karunia terbesar Allah SWT bagi hati setiap muslim, bahwa ia diberikan keistimewaan yang luar biasa. Dan keistimewaan tersebut seakan Allah telah mengetahui, bahwa hati manusia selalu berbalik dan berputar arah. Oleh karenanya, Allah SWT menganjurkan setiap hamba Nya untuk selalu berdoa agar di dibalikan hatinya dari jalan yang buruk kepada jalan yang baik.

Di samping itu pula, hati agar hati selalu baik dan memiliki peranan yang baik pula, maka hendaknya iman ditanam lebih dalam dan pertama kali daripada hal lainnya. Keimanan merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar lagi untuk membekali hati pertama kali. Untuk itu, beriman adalah apabila hatinya telah mengakui dan meyakini atas apa yang telah Allah ajarkan.

Menjadi sia-sia apabila ada hati kosong belaka tanpa keimanan kepada Nya. atau hati hanya di isi oleh hal-hal yang sifatnya fana, seperti keinginan memiliki harta duniawi, rumah mewah, emas melimpah dan lain sebagainya. Semua itu sama sekali tidak akan menolong empunya jika kelak telah berpulang keharibaan Allah SWT.

Beruntunglah orang-orang yang telah mengisi hatinya dengan keimanan kepada Allah SWT. Karena bekal itulah yang akan membedakannya kelak di Akhirat di antara orang-orang Kafir. Hal ini di tegaskan dalam Alquran sebagai berikut:

$yg•ƒr’¯»tƒ ãAqߙ§9$# Ÿw y7Râ“øts† šúïÏ%©!$# tbqãã̍»|¡ç„ ’Îû ̍øÿä3ø9$# z`ÏB šúïÏ%©!$# (#þqä9$s% $¨YtB#uä óOÎgÏdºuqøùr’Î/ óOs9ur `ÏB÷sè? öNßgç/qè=è% ¡

Artinya:

“hari rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, Yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka:”Kami telah beriman”, Padahal hati mereka belum beriman.” ( QS Al Maaidah: 41 )

Ayat di atas hanya menyinggung pusat sebenar-benarnya keimanan adalah di hati. Mulut hanya sebagai penguat. Namun masalah interkasi dengan Allah SWT harus memiliki keimanan hati yang maksimal. Ia bukan sebuah permainan yang di ucapkan hanya untuk memenuhi kebutuhan legal manusia saja.

Berapa banyak manusia yang melakukan kebohongan iman dalam hatinya melalui mulutnya dengan kembali kepada jalan kesesatan walau pun setelah mengucapkan Syahadat kepada Allah SWT dan Rasul. Benar tidaknya menguapkan keimanan kepada Allah SWT dengan mulutnya, hanya Allah lah saja yang mengetahui semua itu. Karena urusan hati adalah wilayah Nya.

Al quran berbicara mengenai hati manusia secara lengkap. Lebih detail dan utuh, terutama tujuan dari penciptaan hati bagi manusia. Bagi manusia, hati adalah ciptaan Nya yang unik. Rasa sedih, bahagia, senang dan lain sebagainya hanya dapat dirasakan oleh kehadiran hati. Bak lidah yang dapat merasakan berbagai rasa. Mulai pahit, asin, manis pedas dan lain sebagainya.

Empat belas abad yang lalu, nabi Muhammad SAW telah mengalami sesuatu yang sangat istimewa terkait hatinya. Ia diberikan keistimewaan oleh Alah pertama kali adalah hatinya. Di mana dalam catatan sejarah, bahwa beliau di bersihkan hatinya dari sifat-sifat dan perbuatan yang dapat melanggar perintah Nya.

Di usia yang relatif kecil, Muhammad telah mengalami sesuatu yang dahsyat dalam hidupnya. Tidak ada yang mengetahui tujuan dari scenario Allah tersebut. Namun semua jagad manusia sampai detik ini hanya meyakini, bahwa Allah akan memberikan yang terbaik bagi Rasul Nya tersebut.

Syahdan, keyakinan umat manusia akan tujuan Allah terhadap pembersihan hati Rasul Nya itu terbukti. Tidak pernah dalam sejarahnya Nabi SAW melakukan kemaksiatan kepada Allah. Atau melakukan pelanggaran kepada Nya, kecuali dalam hal kecil ia akan segera di ingatkan oleh Nya.

Untuk itulah, ia memliki sifat ma’sum ( terjaga dari kesalahan ) yang berbeda dengan manusia pada umumnya. Dan Alquran mencatat pula, setiap orang haryus hati-hati terhadap pikiran yang dikuasai oleh hatinya yang negatif. Sedikit saja lengah terhadap Allah SWT, maka ia mudah untuk dimasuki oleh Syetan. Penyakit-penyakit hati akan mudah bersemayam. Kegelisahan hati akan kian kentara dan susah untuk mengontrol nafsu. Tidak lah disebut sebagian manusia dengan sebutan munafik kecuali dalam hatinya ada beberapa penyakit berbahaya.

Dan sifat Nifaq merupakan sifat yang akan menggerogoti kebaikan seseorang. Seakan ia berbuat baik, namun ia melakukannya bukan karena Allah SWT. Atau ia banyak berbuat ingkar janji tidak sesuai dengan isi hatinya. Atau ia melakukan perbuatan seakan karena Nya, padahal ia melakukannya demi sesuatu yang fana.

Riya, nifaq, hasad atau dengki dan lain sebagainya adalah di anatar sebagian penyakit hati yang siap menggerogoti kebaikan seseorang jika ia tidak mampu mengontrolnya. Tatkala nafsu menguasai, maka bersegeralah untuk memohon kepada Allah SWT. Karena ketika seseorang ingat kepada Nya, sebenarnya ia sedang berusaha untuk minta dijauhkan dari kecenderungan hati yang buruk yang telah dikuasai oleh nafsu.

Dan mendatangi Allah SWT harus dengan memohon, alias berdoa agar hati selalu cenderung kepada kebaikan tatkala nafsu mulai mengajak kepada kejelekan. Dengan keyakinan penuh di dalam hati, semua dapat dipastikan akan terhindar dari kemungkaran.

Dalam bahasa lainnya, Islam pun memandang bahwa Akhlaq atau etika yang baik bermula dari hati, dan hal itu menjadi menu pembahasan utama di dalam Alquran. Karena Alquran berkonsentrasi dalam masalah Tauhid, Syariat dan Akhlaq.

Jika hati menjadi prioritas dalam Alquran karena berkaitan dengan Akhlaq yang menjadi pilar utama dalam Islam, maka sendi-sendi yang menjadi penopang kebutuhan Akhlaq seperti kesempurnaan akal, pola berpikir dan lain sebagainya menjadi bagian yang sangat oenting pula untuk di miliki.

Di perlihatkannya Akhlaq Islam oleh Allah SWT adalah melalui nabi Muhammad SAW. Beliau di katakana sebagai Akhlaq Alquran. Jika kita membaca sejarah beliau, tidak ada satu pun Akhlaqnya yang negatif, kecuali bagi mereka yang sedari awal tidak menyukai Islam.

Benar, bahwa sejak awal kali Islam turun di Jazirah Arabia, orang-orang yang tidak suka Islam akan selalu berusaha menjegal dan menghalangi bahkan mengatakan bahwa Islam itu adalah agama dan ajaran yang tidak benar sehingga tidak patut di ikuti.

Mari lah kita telaah sejenak, kalau anda pernah berkeliling dunia atau paling tidak menemukan agama lain beribadah, maka di sana akan banyak sekali perbedaannya. Factor Akhlaq/etika tidak menjadi penentu utama dalam ibadahnya.

Sebagai contoh, ketika seorang muslim akan melakukan ibadah sholat, maka ia diwajibkan untuk menuntup seluruh Auratnya yang diajarkan. Sebab auratnya akan menjadi penentu secara syar’i akan diterima tidaknya seluruh amal sholatnya. Sah atau tidaknya sangat bergantung kepada aurat. Antara aurat laki-laki dan wanita masing-masing akan berbeda. Tidak seperti penulis pernah dengar dari seorang teman, bahwa di suatu Negara ada seseorang yang melakukan ibadah ( di luar Islam ) dan sama sekali dalam masalah berpakaian yang merupakan bagian aurat dalam Islam bukan bagian terpenting. Seakan mereka tidak memahami apa yang sedang mereka lakukan. Jika mereka menghadap tuhannya saja seperti demikian, bagaimana dengan interaksi antar sesama. Tentunya inilah rahasia Allah SWT mengajarkan kepada hamba-hamba Nya dalam beribadah agar senantiasa memakai aturan yang telah diajarkan dalam Alquran dan Alhadist. Ibarat memakan daging yang baik adalah yang dianjurkan dengan cara di sembelih bukan cara lainnya walau pun sama-sama pada akhirnya binatang yang akan diambil dagingnya itu mati.namun emmakand ari cara yang baik yang diajarkan akan memberikan efek positif pada hal lainnya. Karena dalam Islam apa pun yang dilakukan manusia, apa pun yang di makannya, maka ia akan memberikan asupan kepada seluruh unsure tubuh manusia, baik secara fisik, jiwa, hati dan lain sebagainya.

Harta yang yang dimakan adalah yang halal secara usaha, baik secara jenis berkah secara hasil. Bukan hanya di lihat dari sisi harta bisa di makan atau tidak. Mengenyangkan perut atau tidak. Karena Islam memandang, bahwa harta dapat memberikan efek yang luar biasa pada fisik, sikap, perbuatan dan tentunya hati serta pemikiran manusia itu sendiri.

Semakin baik dan dengan cara yang syar’i maka akan semakin memberikan efek positif bagi kehidupannya. Dalam Hadist telah ditegaskan, bahwa sebaik-baik harta adalah yang dihasilkan seseorang dasi hasil usahanya sendiri.

Sumber:

http://pesantrenalbayyinah.com

  1. mudah-mudahan hatikita dibersihkan,amin.

  2. semoga hati kita selalu dibersihkan dan dijauhkan dari hal yg membuat kita buruk

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: